Pendidikan Network IndonesiaTeknologi & PendidikanTeknologi Pendidikan IndonesiaSains & TeknologiMajalah Teknologi IndonesiaBerita Pendidikan IndonesiaPenelitian Indonesia

Our Education Television Forum

Peluncuran Televisi Pendidikan di Indonesia
[ English Language ]

Televisi Paling Indonesia

PT Cipta Televisi Pendidikan Indonesia (CTPI) didirikan pada bulan Januari 1991 oleh Siti Hardiyanti Rukmana, Abdullah Alatas Fahmi dan Mohamad Jarman, dengan capital yang disetujui Rp. 76.7 milyar. Berdasar surat ijin (permit) dari Investment Coordinating Board (BKPM), dengan rencana perusahaan itu akan invest kira-kira Rp. 225 milyar, termasuk working capital Rp. 47.7 milyar. Berjalan di bawah Domestic Investment (PMDN) Scheme, CTPI atau lebih kenal sebagai TPI sudah punya tenaga kerja 1,866 orang, termasuk 10 tenaga asing.

Hari ini (Juni 27, 1994), jam siaran TPI sudah ditingkatkan lagi ke 19 jam dan 15 minit dari pukul 5.30 pagi sampai pukul 00.45 pagi.
Ref. Highbeam.Com

Televisi Paling Indonesia

Pada hari ini (7 April, 2007) website TPI baru sedang dibuat. Tetapi jelas dari "Visi & Misi" namanya bukan Televisi Pendidikan Indonesia lagi. Kebetulan kami paling senang Dangdut, tetapi mohon ingat artinya "bermutu" dan pengaruh kekerasan di TV. Semoga Sukses TPI, dari Pendidikan Network.

Pada Tahun 2007 Bagaimana? (Pendidikan menjadi Paling)

Latar Belakang
Sebagai stasiun televisi swasta pertama yang mengudara secara nasional sejak 23 januari 1991, TPI juga merupakan televisi pelopor tayangan musik-musik dangdut. TPI yang mengedepankan tayangan-tayangan sopan dan bisa dinikmati seluruh keluarga.

Visi & Misi
Visi : Televisi Paling Indonesia
Misi : Menyajikan program bermutu untuk pemirsa
Slogan : Makin Indonesia Makin Asyik Aja
Ref. http://www.tpi.tv/profile.html

Jadi Kapan Kita Akan Meluncuran Televisi Pendidikan Indonesia?

Peluncuran Televisi Edukasi
Departemen Pendidikan Nasional meluncurkan Televisi Edukasi (TV-E), Selasa 12 Oktober 2004. Program dalam televisi tersebut diharapkan akan menjadi media spesifik dalam penyebaran informasi di bidang pendidikan dan berfungsi sebagai media pembelajaran masyarakat.

Menteri Pendidikan Nasional Abdul Malik Fadjar dalam sambutan saat peluncuran resmi program tersebu mengatakan, sebagai bangsa yang ingin maju, maka kemajuan teknologi perlu dimanfaatkan. Hanya saja itu dilakukan dengan kadar kearifan dan etika yang tinggi, khususnya dilihat dari segi pendidikan.

Saat ini sudah 50 stasiun televisi lebih yang beroperasi di Indonesia, termasuk di dalamnya televisi lokal, televisi kabel, dan televisi satelit. Namun dari jumlah itu, sedikit sekali program yang mengandung pesan pendidikan. Banyak keluhan yang dilontarkan masyarakat tentang dampak negatif siaran televisi. Sebutlah seperti cara hidup konsumtif melalui gempuran paket sinetron dan berbagai tayangan penuh gagasan mistis. Oleh karena itu, Televisi Edukasi harus dirancang untuk mendidik dan mencerdaskan masyarakat. Karena daya jangkau televisi bisa sangat luas, keberhasilan memanfaatkan media itu untuk tujuan pembelajaran akan mempercepat pembangunan masyarakat belajar yang cerdas. Mendiknas juga mengingatkan agar program dibuat mengasyikkan dan menyenangkan.

Kepala Pusat Teknologi Komunikasi Departemen Pendidikan Nasional Harina Yuhetty-yang menjadi penanggung jawab televisi tersebut- mengatakan, program TV-E disiarkan melalui satelit dan dapat diakses dengan menggunakan parabola. Depdiknas memanfaatkan jasa jaringan satelit Telkom.

Pada tahap rintisan, siaran dilaksanakan selama empat jam dari pukul 07.00 hingga 11.00 di frekuensi 3782-3790 MHz. Komposisi program meliputi materi pelajaran pendidikan formal 30 persen, pendidikan nonformal 30 persen, pendidikan informal 20 persen, serta informasi kebijakan dan program berupa berita atau feature 20 persen.

Sasaran TV-E terutama adalah sekolah. Pada September ini telah dilakukan uji coba program siaran yang materi sasarannya diprioritaskan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, dengan penerima siaran di 100 sekolah di seluruh Tanah Air. Sekolah-sekolah lain yang berkeinginan menangkap siaran tersebut dapat melengkapi perangkat parabola dengan dukungan dan bantuan pemerintah atau masyarakat.

Paket-paket program TV-E sementara ini dikerjakan dengan bantuan Universitas Terbuka, internal Departemen Pendidikan Nasional, Japan Foundation, dan berbagai program studi jarak jauh.
Ref. http://diknas.kaltim.go.id Kunjungi: eGroup

Saran / Pertanyaan

Banyak sekolah di Indonesia masih belum punya cukup fasilitas pengajaran dan peragaan, tetapi sebagian kecil dari sekolah-sekolah ini akan menerima parabola untuk TV-E! Apakah, ini benar prioritas?

Teknologi biasanya bukan hal utama, hal utama adalah bahan yang bermutu. Apakah, isinya program-program TV-E bermutu dan membantu pengajaran? Apakah program-program TV-E sudah di-preview dulu oleh banyak guru di lapangan?

Kalau kami lihat jadwal yang berjalan dari pagi sampai sore/malam kami harus tanya mengapa tidak disiarkan di televisi umum? Banyak topik yang kelihatannya penting untuk masyarakat juga. Bukankah kita punya kewajiban untuk membangun pendidikan bangsa?

Mengapa tidak menbuat stasiun Televisi Pendidikan Indonesia, yang bersama TVRI (TeleVisi Republik Indonesia) digunakan sesuai dengan kebutuhan DepDikNas? Dana? Mengapa membuat sistem baru (di atas) yang sulit sekali untuk dilaksanakan di semua sekolah di Indonesia dan tidak bermanfaat buat masyarakat umum?

Bagaimana guru-guru di lapangan dapat membagi waktu di kelas untuk menonton program-program ini? Katanya program pengajaran kurikulum mereka sudah padat!

Apakah, program-program pendidikan perlu disiarkan di luar jam kelas supaya tidak menggangu jam pelajaran di sekolah? Kalau begitu mengapa "sasaran TV-E terutama adalah sekolah"?

Jadi, bagaimana kemajuannya, bagaimana layanan pendidikan lewat televisi yang dilaksanakan sampai sekarang, apa meningkatkan pendidikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat di Indonesia?

Berita Baru
Sabtu, 14 April 2007 04:02 WIB
Rp300 Miliar untuk Program TV Edukasi

JAKARTA--MIOL: Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) menyediakan Rp300 miliar untuk pengembangan program pendidikan melalui media televisi dan DVD. Ini bagian dari program yang dinamakan Televisi Edukasi.
-------------------------------
Sumber:
Media Indonesia Online
-------------------------------
Berita bagus kan?

RE: Artikel "Rp300 Miliar untuk Program TV Edukasi"

RE:
"Semua dialokasikan untuk televisi, parabola, modul, DVD dan yang lainnya. Selain itu, tahum ini Depdiknas berencana menambah DVD guna membantu merekam siaran TV Edukasi yang saat itu siarannya tidak tertangkap parabola."

Selama kami bekerja di bidang teknologi pendidikan di luar negeri (22 tahun) kami belum pernah menyaksikan kelas SMP/SMU menonton siaran TV Pendidikan secara langsung.

Kalaupun ada program yang menarik paling gurunya meminta program direkam dan digunakan di kelas pada waktu yang tepat. Bagaimana mungkin mereka dapat mengatur kelas-kelas sesuai dengan jadwal televisi. Apa lagi guru yang profesional tidak ingin membagi waktu siswa untuk nonton TV atau video di kelas tanpa di-preview dulu untuk cek itu betul relevan dan bermutu.

Kami sendiri waktu mengajar teknologi dan bahasa Inggris hanya pernah menggunakan video yang kami sudah mengevaluasi dan menyiapkan tugas khusus untuk murid-murid (worksheets). Di luar negeri saja di sekolah bermutu, belum tentu bahan yang disiapkan oleh guru lain cocok untuk murid-murid kami.

Tetapi, kadang-kadang kami melihat anak-anak SD menonton televisi secara langsung karena jadwal mereka dan rencana pembelajaran mereka lebih flexible, dan anak-anak SD kadang-kadang juga perlu input atau stimulasi dari luar kelas (dan lingkungan mereka) untuk mengaktifkan diskusi.

Kelihatannya siaran TV Pendidikan langsung pada waktu jam kelas tidak begitu berguna. Barangkali lebih efektif kalau membagi DVD (terisi program) saja daripada parabola dan siaran langsung.

Bagaimana hasilnya kalau kita pakai rekeman saja (Video Cassette & DVD)?
Ini cerita menenai Malaysia:

The Evolution of the Technology-Based Learning Environment

Malaysian schools have at various points in time been introduced to various educational technology innovations. In the early days there was Radio Pendidikan (Educational Radio) and schools were provided with cassette recorders to record these programmes. Some schools were given a few units of overhead projectors. When TV began in Malaysia, TV Pendidikan (Educational TV) was introduced and schools also acquired the Video Cassette Recorder (VCR), to enable them to record TV Pendidikan programmes so they might be shown at a convenient time. What has happened to all these innovative hardware? Are teachers using them in the classroom? WHY NOT? Today we have computers, CD ROMS and the internet. Will they meet the same fate like earlier technological innovations in our schools?

Ref: Homestead.Com

DATA-DATA-DATA? Sulitnya Mencari Data/Informasi TV Edukasi!



Kelihatannya sistim merekam program televisi pendidikan di sekolah juga tidak begitu berguna. Kalau tidak dapat berhasil di Malaysia dari dulu, untuk apa kita membuat sistim ini lagi di Indonesia? Televisi pendidikan sangat bermanfaat untuk mendidik masyarakat, tetapi di sekolah???

RE: ""Hingga saat ini sudah 28.688 unit televisi dan 7.508 parabola yang telah disumbangkan kepada sekolah setingkat SMP di seluruh Indonesia," papar Lilik."

Ini sangat bagus untuk manufakturer, maupun distributor. Semoga tidak ada korupsi atau kolusi, dan mudah-mudahan barangnya buatan dalam negeri supaya ada untung juga buat industri kita. Karena anggaran untuk pendidikan adalah sangat sedikit, seharusnya program-program berdasar pembelian barang dan jasa harus sering diaudit dan dievaluasi, dan hasilnya diumumkan.

Kita punya berapa sekolah sebenarnya, termasuk SD, SMP, dan SMU? Kapan kita akan melanjutkan program ini ke semua sekolah? Pemiliharaan teknologinya tangung jawab siapa?

Berapa anak-anak sudah punya televisi di rumah? Kalau program disiarkan pada luar jam kelas di televisi umum semua dapat menonton kan?

RE: "Ketika ditanyakan mengapa hanya sekolah setingkat SMP yang mendapat bantuan, Lilik mengatakan, untuk SMA memang saat ini lebih diarahkan ke komputer."

Apa maksudnya, komputer tidak sama penting untuk anak SMP? Masih banyak anak SMP tidak lanjut ke SMA dan mereka akan perlu keterampilan komputer sebanyak mungkin untuk di lapangan. Padahal anak SMA akan mendapat keterampilan tiga tahun lagi sebelum ke lapangan atau ke perguruan tinggi. Sekarang di kota besar banyak anak-anak SD sudah mulai pandai komputer.

RE: "Guna mendukung jangkauan siaran ke seluruh wilayah di Indonesia, Depdiknas bekerja sama dengan 160 televisi lokal. Di Indonesia kata dia, banyak televisi lokal yang mengajak Depdiknas bekerja sama, karena mereka kekurangan program siaran."

Ya, ini memang bagus,
kalau dapat dilaksanakan dengan baik. Menggunakan siaran televisi lokal yang dapat diakses oleh semua masyarakat. Tetapi lebih baik lagi adalah stasiun umum khusus pendidikan, yang profesional.

RE: "Sejauh ini menurut Lilik, pengaruh Televisi Edukasi sudah terasa di masyarakat. "Banyak orang kita yang menyukai Televisi Edukasi. Orang tua banyak yang mengajak anak-anaknya menonton siaran Televisi Edukasi melalui televisi kabel dan lokal.""

Ya "terasa" di bagian masyarakat yang menerima "televisi kabel dan lokal" 'yang bermutu dan tanpa gangguan transmisi dan beberapa masalah yang lain'. Jumlah pemirsa baru sedang di-SURVEY atau "ESTIMASI" oleh PUSTEKKOM DEPDIKNAS (Apr 26, 2007).

Tetapi semua masyarakat bisa senang dan dapat berpartisipasi dan maju bersama kalau TV pendidikan disiarkan di 'stasiun televisi umum'
. Ini sangat penting supaya orang tua punya alternatif untuk anak-anak daripada nonton sinetron melulu.

Untuk apa beli televisi atau parabola lagi untuk sekolah? Membuat stasiun televisi pendidikan umum yang relatif mudah dilaksanakan, dan adalah sustainable (misalnya: oleh iklan untuk produk-produk yang sehat, bergizi dan bermutu).

Ayo, mari kita kerja keras untuk membuat stasiun "Televisi Pendidikan Indonesia" supaya dapat mulai membantu dan mendidik masyarakat di Indonesia. Membaca/Menulis Saran Anda Di Sini!